Menemukan Makna Hakikat Idul Fitri

Khutbah Idul Fitri 1441 H

Hadirin jamaah shalat ied Rahimakumullah
Ada fenomena yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat Indonesia setiap kali datang hari raya Idul Fitri. Umunya mereka berramai-ramai merayakannya dengan ekspresi suka cita yang meriah. Sebagian besar orang menyebutnya “hari kemenangan” meskipun seringkali kita sendiri ragu: benarkah kita sedang mengalami kemenangan? Kalaupun iya, kemenangan dari apa dan untuk siapa?

Sebenarnya orang itu dikatakan menang jika ia telah sukses mengalahkan sesuatu yang menjadi lawannya. Sesuatu itu bisa saja berupa hal-hal yang membelenggu, menjajah, menyerang, dan menindas. Dan musuh utama manusia selama puasa Ramadhan sebelum akhirnya merayakan Idul Fitri adalah hawa nafsu. Masalahnya, hawa nafsu membelenggu, menjajah, menyerang manusia bukan dengan penampilan yang seram dan menakutkan. Sebaliknya, ia justru menghampiri dan mendekati anak Adam dengan hal yang seringkali sangat memikat dan disukai banyak orang. Dan pada titik inilah puasa menjadi super berat, karena mensyaratkan seseorang tak hanya sanggup menahan lapar dan haus tapi juga sanggup melawan dirinya sendiri yang sering dikuasai kesenangan-kesenangan ego pribadi. Rasulullah mengingatkan,

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malam.,’” (HR An-Nasai).

Jika demikian, sudahkah kita mendapatkan kemenangan? Karena seringkali puasa hadir tanpa makna, lewat begitu saja. Puasa belum sepenuhnya menjadikan kita makhluk yang benar-benar berbeda setelah satu bulan kita dilatih di madrasah bernama ramadhan. Dan ketika kita memasuki syawal, kita seakan lupa pelajaran-pelajaran penting dalam puasa dan kita kembali kepada wujud semula seakan ramadhan tak berarti apa-apa.

Hadirin shalat ied Rahimakumullah,
Dalam suasana masih Idul Fitri ini penting bagi khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk berinstropeksi tentang kualitas ketakwaan yang menjadi tujuan diwajibkannya berpuasa (la‘allakum tattaqûn) sebagaimana disebutkan dalam QS al Baqarah 183 dan keterangannya sangat masyhur karena sering kita dengar berulang kali dalam banyak pengajian ramadhan. Bulan Syawal menjadi ukuran bagi kita untuk memeriksa segenap ibadah, tingkah laku, dan sikap batin kita, apakah mengalami peningkatan mutu, biasabiasa saja, atau justru mengalami penurunan. Bagaimana tingkat kepekaan kita kepada sesama, terutama yang membutuhkan? Sudah seberapa jauh sifat riya’, ujub, dengki, suka membual, dan bertindak tidak penting menghindar dari diri kita? Dan lain
sebagainya.

Tantangan kita selanjutnya adalah mengungkapkan suka cita pada hari Lebaran dengan penuh makna, bukan sebatas pesta kue hari raya, pamer busana, dan hura-hura. Suasana Idul Fitri sejatinya adalah suasana kemanusiaan. Di momen ini, kita dibangkitkan untuk kian berempati dengan sesama, membuka pintu maaf, serta melepas gengsi untuk mengakui kesalahan lalu meminta maaf. Orang yang diberikan kemudahan rizki danharta mampu mengisi dan berbagi dengan sanak saudara dan orang yangmembutuhkan. Pada saat ini, kita diminta agar dengan lapang memaafkan kesalahandan khilaf dari orang yang pernah menyakiti, merendahkan atau menghina kita. Maaf menajdi pintu bagi islah kemanusiaan sehingga hubungan hablum minannas bisa menjadi
salah satu jalan membangun dan memperbaiki ikatan kemanusiaan yang dengan ikatan kuat inilah peradaban besar islam baik dalam skala kecil maupun besar akan bisa dibangun dan dimajukan.

Di sisi lain, puasa adalah salah gerbang membangunkan kesalehan sosial, itulah sebabnya puasa ditutup dengan kewajiban zakat fitrah. Zakat fitrah adalah simbol kepedulian sosial. Kenapa harus zakat fitrah? Fithri artinya “suci, karakter asli, bawaan lahir”. Melalui simbol zakat itu Islam ingin membuktikan adanya solidaritas terhadap sesama, terutama kepada mereka yang sedang butuh uluran tangan, sebagai bagian dari fitrah
kemanusiaan kita.

Naluri manusiawi selalu menaruh kepedulian yang tinggi kepada manusia lainnya, bahkan kepada makhluk lain secara umum, seperti air, tanah, binatang, dan tumbuhan. Garis sikap inilah yang kerap terabaikan dan berat dilaksanakan. Salah satu faktornya adalah manusia kalah dengan hawa nafsunya yang cenderung mengutamakan kepentingan sempit untuk kepuasan diri sendiri. Puasa adalah di antara jalan yang disediakan agama
untuk berjihad menaklukkan nafsu yang menjelma seperti “anak manja” itu.

Hadirin Jamaah shalat ied as‘adakumulâh,
Agama juga disebut-sebut sebagai sesuatu yang fitrah. Artinya, petunjuk-petunjuknya selaras dengan jati diri, watak bawaan, dan naluri manusiawi. Agama memposisikan manusia tak sebatas jasad tapi juga ruh, mempercayai kekuatan adikodrati yakni Tuhan, dan menuntut tiap manusia berakhlak mulia. Semua ini bersifat fitrah.

Justru karena agama ini fitrah inilah agama tidak perlu dipaksakan karena petunjuknya tidak ada yang bertentangan dengan jati diri dan naluri manusia. Kalau pun ada maka cepat atau lambat akan ditolak oleh penganutnya sendiri, dan inilah bukti bahwa agama memang fitrah.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, Demikianlah, semoga Idul Fitri benar-benar menjadi momentum yang sesuai dengan artinya, yakni kembali ke kondisi fitrah. Kembali ke jati diri kemanusiaan kita sebagai
hamba Allah yang total, kembali tabiat asli manusia sebagai makhluk sosial, dan kembali kepada naluri manusia sebagai makhluk penyayang terhadap lingkungan dan alam secara luas.

KHUTBAH 2

Oleh: Ust. Enjang Burhanudin Yusuf, S.S., M.Pd

(Dewan Asatidz Pondok Pesantren Darussalam Purwokerto)

Editor : AIS

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *