Podium Perpektif Santri Dalam Pemilihan Umum CAPRES 2024

Pondok Pesantren Darusalam Dukuhwaluh Purwokerto telah  menyelenggarakan  acara Podium (Pojok Diskusi Umum). Yang diadakan oleh Pengurus Badan Eksekutif Santri pada hari Jum’at 9 februari 2024.

Acara tersebut bertempat di pendopo Dr. Chariri shofa, M.Ag. yang dimulai pada pukul 21.00 dengan mengusung tema “PERSPEKTIF SANTRI DALAM PEMILIHAN UMUM CAPRES 2024. Mengundang Ustadz Muzajjad Faqihudin, S.Pd. dan Ustadz Azam Prasodo Kadar, S.H. sebagai Pemateri.

Setelah dibuka Oleh Moderator para pemateri secara bergantian menyampaikan materi. Dalam acara  Podium ini berjalan dengan khidmat dan berhasil menyedot kurang lebih ratusan santri putri dan santri putri yang hadir.

Pojok Diskusi Umum

Pemateri  pertama Ustadz Azam Prasodo Kadar mengatakan bahwa Berbicara tentang pemilu, tentunya kita juga berbicara tentang politik. Dinamika politik diperlukan peran santri atau kyai untuk mewujudkan politik yang rahmatal lilalamin.

Santri punya saham untuk menjadi pemimpin di negeri ini. Santri bisa jadi pemimpin politik, ekonomi maupun pemimpin agama karena pesantren memang dari dulu memproduk pemimpin lalu Pentingnya kehidupan demokrasi dalam masyarakat mendukung terciptanya kehidupan bersama yang nyaman.

Bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Istilah ini lebih banyak dikenal di dunia peradilan yang bagaimana seorang hakim harus mencerminkan keadilan yang merupakan salah satu tindakan yang hanya dimiliki oleh tuhan semata.

Keputusan dari seorang pengadil ini harus berdasarkan suara rakyat yang banyak atau membawa aspirasi masyarakat luas sehingga dianggap mengusung suara tuhan. Vox populi, vox dei dalam perkembangannya untuk saat ini lebih ke arah panggung politik.

Kehendak dari rakyatlah yang sebagian besar menentukan proses politik atau pemilu. Demokrasi dipandang oleh para santri era modern ini  merupakan nilai demokrasi yang mampu menjamin keadilan dan kemakmuran rakyat.

Bagaimana sebisa mungkin santri dalam pesantren dididik untuk mengetahui bagaimana bernegara dari nilai keadilan dan kemakmuran rakyat dalam hal pengetahuan nasionalisme cinta tanah air. Suara santri diperlukan menjaga dinamika sosial politik yang dinamis.

Gerakan santri kekinian mewujudkan perubahan. Gerakan santri kekinian menjaga dinamika sosial politik yang dinamis. Bahwa semua mempunyai hak untuk memilih dan di pilih. mudah mudahan kita  dapat membina diri kita sendiri untuk menjadi mahluk demokratis ” ujar Ustadz Azam Prasodo Kadar, S.H.

Ustadz Azam  menilai esensi yang didapat dari pesantren ini, selain memaknai demokrasi tapi juga menjadi wadah untuk saling menghormati. Sementara pemateri kedua Ustadz A.Muzajjad Faqihudin, S.Pd. mengatakan  Bagaimana kita memandang kontestasi pemilu dari sudut pandang santri? 

1. Santri Sebagai Pemilih

Vox populi, vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan). Sebagai santri dan pemilih kita ada 2 faktor dimana faktor tersebut ada faktor internal dan faktor  eksternal. Faktor internal : ikuti kata hati  dan Faktor eksternal : Pertimbangan, dalam hal ini kita merujuk kepada kyai/ guru- guru kita. 

2. Santri Sebagai Agen Perdamaian 

Harus menjaga jari- jari  kita dari apapun itu yang bersifat hoax. Ketika kita sudah mempunyai pilihan paslon tidak perlu kita mendiskriminasi pilihan orang lain ataupun paslon lainnya. 

3. Santri Sebagai Penentu Arah Politik

Bukti bahwa santri sebagai penentu arah politik adalah banyaknya paslon Paslon datang sowan ke kyai- kyai meminta nasehat & dukungannya. 

Dari sini lah Seorang santri jangan sampai buta politik. Bagaimana kebijakan- kebijakan dan visi misi paslon yang berdampak bagi santri nantinya? Setiap paslon pastinya mempunyai visi misi yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat.

Kebijakan- kebijakan dan visi misi paslon tentunya semua baik untuk santri nantinya. Yang tidak baik ketika kita kok palah tidak memilih/golput yang dimana kita diberi hak untuk memilih.

Kepemimpinan yang seperti apa di dunia ke pesantrenan itu? 

Tipe kepemimpinan di dunia pesantren ada 2 diantaranya :

1. Bersama-sama antar pimpinan- pimpinan suatu pesantren

2. Hanya berdasarkan dawuh/ ngendika dari pak kyai/bu nyai

Dua tipe kepemimpinan tersebut semuanya baik. Dan jangan jauh- jauh ketika kita mencari role mode pemimpin yang baik, beliau almaghfurlah Dr. K. H. Chariri Shofa M.Ag bisa dijadikan role mode pemimpin untuk kita.

Acara ini juga diisi dengan sesi tanya jawab dan diskusi  antara peserta dan pembicara. Hal ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk bertanya dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menggunakan hak suara dalam pemilu.

Dalam podium ini terdapat sesi tanya Jawa yang membahas tentang hukum suap menyuap dalam pemilu dan cara mencegah fanatisme politik perspektif santri. 

Bahwa di setiap menjelang ajang pemilihan kepemimpinan, mulai kepemimpinan jabatan di tingkat daerah hingga pusat, ataupun pemilihan kepemimpinan ormas, tak jarang ditemukan fenomena para pemilih diberikan sejumlah barang. Bentuk pemberian tersebut beragam.

Ada yang hanya meminta dukungan suara, ada juga yang secara tegas menyebutkan bahwa pemberian tersebut sebagai imbalan dari suara pemilih atau dengan istilah lain NPWP (nomer piro wani piro), Sambung Ustadz A.Muzajjad Faqihudin, S.Pd.

Bahwa praktik tersebut masuk dalam kategori risywah atau suap dan pemberian tersebut diharamkan. Lalu mengenai fanatisme politik dalam permasalahan berbeda pilihan pasti selalu ada tetapi Keberagaman yang ada di dunia ini adalah sebuah keniscayaan.

Di Indonesia perbedaan suku, bahasa, budaya, maupun akidah adalah salah satu contoh dari bentuk keberagaman. Keberagaman ini harus disikapi dengan baik dan benar. Diharapkan melalui keberagaman ini membuat penduduk dunia semakin kagum dengan kekayaan pluralisme yang ada di Indonesia.

Namun jika salah menyikapi, keberagaman ini menjadi boomerang yang siap menghancurkan bangsa Indonesia melalui masalah- masalah intern karena perbedaan tersebut. Salah satu dampak negative yang ditimbulkan dari kesalahan menyikapi keberagaman adalah tumbuhnya sikap fanatisme dalam diri masyarakat Indonesia.

Untuk mencegah dan menangani permasalahan ini, Kita harus banyak mengajak Diskusi dengan cara baik- baik. Ujar Ustadz A.Muzajjad Faqihudin, S.Pd. Dan dalam  Al-Qur’an sebagai kitab pedoman semua umat manusia, kitab suci yang kitabun laa raiba fiin (kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya) sudah menegaskan solusi pencegahan dan penanganan dalam perspektif Al- Qur’an. Berikut ini adalah cara-cara penanganan tersebut

1. Kesadaran Akan Kesamaan Derajat Manusia Disisi Allah SWT.

2. Bersatu Mempererat Tali Persaudaraan

3. Mewujudkan Keadilan Sosial yang Merata

4. Bermusyawarah Mencari Solusi Yang Dilandasi Sikap Kasih Sayang

Penulis: Syifa Nurul Wahidah.I

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar